Bismillah, Assalamualaikum.
Setelah sekian lama tidak merawat blog ini alhamdulillah kembali berkesmpatan memposting tulisan sederhana. Waktu benar-benar tidak terasa begitu cepatnya. Setelah perlombaan yang diadakan oleh BTIKP Provinsi kalimantan Selatan lalu saya melanjutkan keseharian sebagai guru bahasa Inggris, kemudian diminta untuk ikut dalam seleksi Calon Kepala Sekolah, sepertinya hampir-hampir tidak sempat lagi menengok blog kesayangan ini.
Sebagian guru mungkin mengira bahwa menjadi Kepala Sekolah itu adalah puncak dari pada karir, kerjaan agak santai, lalu pensiun. Jika masih ada yang mengira sperti itu, wah ini harus benar-benar di-review lagi anggapan seperti ini. Jujur, saya juga pertama berfikir begitu dan ternyata beda sekali antara "khayalan" dan kenyataan.
Izinkan sedikit berbagi kepada teman-teman guru atau pembaca blog ini. Pada tahun 2015 saya menjadi Plt. Kepala Sekolah, kemudian beberapa tahun kedepannya diangkat menjadi Kepala Sekolah definitif disebuah SMA di daerah yang agak terpencil dekat pegunungan meratus, benar-benar menyita waktu dan fikiran. Dengan usia saya yang ketika itu 33 tahun dengan pengalaman beginner sebagai KS, seperti semi otodidak dalam hal mengelola sebuah Satuan Pendidikan. Sekolah Baru yang saya tangani belum mempunyai gedung layak, dengan kas keuangan "penuh kesabaran" ketika awal saya masuk, dengan murid 41 orang, masyarakatnya yang masih "belum dewasa" dalam pendidikan , hal ini tantangan yang lumayan berat. Detailnya nanti akan saya tulis insyAllah di post selanjutnya atau di podcast Youtube saya. Mungkin bisa dibilang kami mengelola sekolah itu mulai dari angka 2 atau 3, jika tidak bisa dikatakan dari nol, he he he...
Beberapa tahun tugas disana, saya yang biasanya suka bikin media pembelajaran, menulis artikel, membuat PTK dll, itu semua lewat hampir ga sempat saya berfikir untuk itu. Saya menyadari manajemen waktu saya mungkin kurang baik, tapi saya merasakan menjadi Guru itu lebih punya kesempatan untuk membuat karya ini dan itu. Menjadi Kepala Sekolah disamping harus mengurus seluruh raung lingkup Satuan Pendidikan, juga harus memenuhi administrasi yang tak kalah berat dari Guru biasa. Ketika akan membuat penelitian, terkendala waktu mempersiapkan laporan sekolah ini itu, rakor dan lainnya, ini seru dan menantang sebenarnya, hanya saja saya yang kurang bisa memanfaatkan kesempatan.
Tapi ini jangan membuat kawan-kawan patah semangat untuk menjadi KS, karena tentu banyak hal positif yang akan didapat ketika menjadi KS, contoh: leluasa dalam mengatur kebijakan dunia pendidikan, lalu ada Tunjangan yang lebih tinggi dari guru umumnya, meskipun tidak beda jauh tapi lumayan lah ada bedanya. Dari segi sosial, kita bisa lebih didengar oleh masyarakat binaan kita tentunya. Dan hal lainnya.
Alhamdulillah, saya sempat bertugas disana selama 7 tahun, lalu mutasi ke Kabupaten dimana saya tinggal sekarang. Dengan jumlah murid sekitar 250, punya status Adiwiyata Provinsi dan bangunan yang lumayan lengkap saya agak berlega hati untuk berpindah tempat pengabdian selanjutnya. Penerus saya semoga akan lebih ringan nanti memikul beban itu. Tunggu cerita lengkapnya di Channel MIZAN BANUA ya :)
Intinya benarkan dulu niat kita dalam sebuah posisi. Jika kita hanya mengharap materi, itu akan membuat kecewa dalam waktu dekat, tapi jika niat kita karena pengabdian kepada umat, masyarakat, ikhlas karena Allah, itu akan menguatkan kita, Tuhan akan menolong kita. InsyaAllah.
Salah hhilaf mohon maaf.
Wassalamualaikum.












